PANGKEP – Semangkuk kapurung menjadi pengikat suasana silaturahmi warga perantauan Wija to Luwu (WTL) di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Sekitar 20-an warga WTL berkumpul di kediaman Hasbi Kasim, Jalan Matahari, Kecamatan Pangkajene, Rabu (30/9/2026). Di tengah santap bersama dengan sajian khas Luwu itu, mereka membicarakan satu agenda penting: membangun wadah kekeluargaan Wija to Luwu di Pangkep.
Pertemuan konsolidasi awal tersebut kemudian menyepakati rencana pembentukan Badan Pengurus Daerah Kerukunan Keluarga Luwu Raya (BPD-KKLR) Kabupaten Pangkep.
Suasana pertemuan berlangsung santai dan kekeluargaan. Kapurung serta sejumlah hidangan tradisional Luwu menjadi bagian dari jamuan, sembari peserta berdiskusi mengenai keberadaan diaspora Wija to Luwu yang selama ini tersebar di berbagai wilayah Pangkep.
Sebagian warga WTL lainnya belum dapat hadir karena berbagai alasan. Namun, mereka telah menyampaikan dukungan terhadap rencana pembentukan BPD KKLR Pangkep.
Pertemuan tersebut juga menjadi ruang awal untuk menghimpun warga Wija to Luwu dari berbagai latar belakang profesi yang bermukim di Pangkep.
Dalam konsolidasi itu, nama Hasbi Kasim diusulkan masuk dalam jajaran pengurus inti BPD KKLR Pangkep. Susunan kepengurusan secara lengkap akan dibahas dan ditetapkan melalui mekanisme organisasi berikutnya.
Dari Silaturahmi Menuju Konsolidasi Organisasi
Rencana pembentukan BPD KKLR Pangkep merupakan bagian dari agenda konsolidasi organisasi KKLR di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.
Untuk memulai proses tersebut, BPW KKLR Sulsel telah memberikan mandat kepada tiga orang, yakni Hasbi Kasim, Karya Djusaib dan Ego.
Ketiganya menerima Surat Mandat Nomor 004/MDT/BPW-KKLR-SULSEL/IX/2026 tertanggal 29 September 2026, ditandatangani Ketua BPW KKLR Sulsel, Ir. H. Hasbi Syamsu Ali, MM, dan Sekretaris Asri Tadda, S.Ked., M.H.
Dalam surat mandat itu, ketiganya ditugaskan sebagai Tim Pembentukan BPD KKLR Pangkep. Tugas utama tim meliputi identifikasi diaspora Wija to Luwu yang berdomisili di Pangkep serta mempersiapkan Musyawarah Daerah (Musda) I BPD KKLR Pangkep.
Tim juga diminta berkoordinasi dengan Tim Percepatan dan Fasilitasi Pembentukan (TPFP) BPD KKLR se-Sulawesi Selatan. Mandat tersebut berlaku hingga 29 Oktober 2026 dan dapat diperpanjang sesuai ketentuan organisasi.

Siapkan Musda dan Pelantikan
Setelah konsolidasi awal digelar, tim pemegang mandat selanjutnya akan mempersiapkan Musda I BPD KKLR Pangkep sekaligus agenda pelantikan pengurus.
Panitia pembentukan berharap proses tersebut dapat melibatkan lebih banyak warga Wija to Luwu yang tinggal di Pangkep.
Keterlibatan diaspora dari berbagai profesi dinilai penting agar wadah yang dibangun nantinya dapat menjadi ruang bersama bagi warga Luwu Raya di daerah perantauan.
Hasbi Kasim yang ikut dipercaya dalam tim pembentukan diharapkan dapat membantu memperluas komunikasi dan konsolidasi dengan diaspora Wija to Luwu di berbagai wilayah Pangkep.
Berdasarkan estimasi sementara, jumlah warga Wija to Luwu yang bermukim di Kabupaten Pangkep diperkirakan tidak kurang dari 200 orang. Angka tersebut menjadi salah satu potensi yang hendak dihimpun melalui pembentukan BPD KKLR Pangkep.
Merawat Identitas di Tanah Rantau
Bagi diaspora Wija to Luwu, pembentukan BPD KKLR Pangkep bukan semata agenda struktural organisasi.
Lebih dari itu, keberadaan wadah tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menjaga hubungan kekeluargaan, memperkuat komunikasi antarsesama warga Luwu Raya, sekaligus merawat identitas dan tradisi di tengah kehidupan masyarakat perantauan.
Pertemuan sederhana yang diawali dengan makan kapurung itu menjadi langkah awal menuju agenda organisasi yang lebih besar.
Dari meja makan dan obrolan kekeluargaan, konsolidasi pembentukan BPD KKLR Pangkep mulai menemukan bentuknya. Selanjutnya, proses tersebut akan berlanjut pada pendataan diaspora, persiapan Musda hingga pembentukan kepengurusan secara resmi. (*)











